Menghilangkan Dosa Dengan Tobat dan Istighfar

0
Menghilangkan Dosa Dengan Tobat dan Istighfar - Apakah Dosa itu dan bagaimana cara menghilangkannya. Umat Kristen dengan doktrin penebusan dosanya meyakini bahwa dosa manusia sudah ditebus oleh darah Yesus di tiang salib. Manusia terlalu kotor dan tidak mampu menghilangkannya dengan kekuatan sendiri, hanya Yesuslah yang bisa menebus segala kesalahan. Tetapi Islam tidak mengajarkan konsep penebusan dosa tersebut tetapi Islam mengajarkan dosa bisa dihilangkan dengan tobat. Allah menciptakan manusia tidak hanya diberikan segala kemampuan jasmaniah melainkan telah dilengkapi juga kekuatan rohaniah, termasuk ketika dia berdosa manusia sebenarnya telah diberi kemampuan untuk bangkit, dengan bertobat dan menebusnya dengan kebaikan yang lebih banyak. 

Hakikat dosa bukanlah bahwa Allah menciptakan dosa lalu kemudian sesudah ribuan tahun baru terpikir oleh-Nya untuk pengampunan dosa, tidak; tetapi sebagaimana lalat memiliki dua sayap, di satu sayapnya terdapat penawar dan di sebelahnya terdapat racun, demikian pula pada manusia ada dua 'sayap' satu sayap maksiat dan yang satu lagi sayap penyesalan. 

Menghilangkan Dosa Dengan Tobat dan Istighfar
(Menghilangkan Dosa Dengan Tobat dan Istighfar)
Tobat merupakan bukti perasaan menyesal. Ini sudah merupakan kaidah umum bahwa jika seseorang memukul orang lain maka sesudahnya ia akan menyesal dan merasa bersalah, seolah-olah kedua sayapnya mengepak secara bersamaan, yaitu ketika racun beraksi terdapat pula antidotnya. Kini pertanyaannya adalah mengapa dosa itu dibuat, mengapa manusia tidak diciptakan saja menjadi suci semua tanpa cela sebagaimana pikiran orang-orang Kristen. Jawabannya adalah kendatipun ia racun namun karena terdapat sifat mematahkan di dalamnya, maka ia memiliki fungsi sebagai penawar. Racun juga apabila sudah melalui sebuah proses maka itu akan berfungsi sebagai obat. Dari racun-racun seperti itu banyak sekali diramu menjadi obat-obatan. Dari suatu kesalahan seorang dapat belajar sehingga menjadi insan yang lebih kuat, yang lebih awas. 

Jika tidak ada dosa maka akan muncul racun yang lain, yaitu racun keangkuhan yang dengan itu akan menghancurkan manusia. Jadi tobat akan berfungsi menghilangkannya. Tobat akan menghindarkan manusia dari bahaya takabur dan ujub.

Bertobat Dengan Memperbanyak Istighfar

Sebagai seorang mukmin mestilah kita memperbanyak istighfar dan tobat kepada Allah. Jika satu sayap sudah mengepak, artinya kita telah diperingatkan untuk kembali kepada Allah meminta ampun, dan selanjutnya memperbaiki kesalahan dengan tidak mengulanginya dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan yang baru. Jika junjungan kita yang Mulia Nabi Muhammad saw saja masih beristighfar setidaknya 70 kali sehari, maka apalagi kita yang seharusnya melakukan lebih banyak lagi.

Tobat itu tidak berarti hanya berlaku kepada orang yang pada saat itu melakukan dosa, tetapi tobat juga belaku untuk setiap kondisi sebagai penghadang dari potensi dosa yang bisa saja terjadi kemudian hari. Ia akan menjadi pelindung, yaitu kita yang mengenali dosa itu sebagai dosa maka ia akan lebih berhati-hati untuk menjauhi dosa tersebut. 


Jika kita dengan kesungguhan hati menangis memohon ampunan kepada Allah, maka Allah dengan sifat Ghofurnya akan memaafkan kita. Seseorang yang terus beristighfar maka hatinya akan melihat dosa itu sebagai suatu hal yang jijik dan ia tidak ingin mendekatinya. 

Secara alami umat Islam telah tertanam rasa jijik akan daging babi, padahal ribuan perbuatan lainnya yang kotor tetap saja dilakukan. Jadi hikmahnya adalah Allah telah meletakkan contoh rasa jijik dan rasa tidak suka kepada daging babi, maka rasa itu jugalah yang harus ditumbuhkan kepada setiap perbuatan dosa. Dan hal itu bisa dilakukan dengan tobat dan memperbanyak istighfar. 

Jika dalam diri manusia telah tertanam rasa benci pada dosa dan kemudia mengayunkan langkahnya kepada perbaikan diri, maka lama kelamaan segenap keburukannya akan menjauh. 

Yakinlah bahwa di dalam tobat terdapat buah-buah yang berlimpah. Ini merupakan sumber mata air keberkatan. Pada hakikatnya para wali dan orang-orang saleh adalah mereka yang bertobat dan kemudian mereka terus istiqomah dalam tobatnya. 

Oleh karena itu kita harus tingkatkan tobat kita kita jadikanlah amal kita mendatangkan ridho sang Pemilik kita. Ingatlah bahwa hukuman dari kekeliruan akidah kita akan diputuskan di akhirat nanti, keputusan menjadi orang Hindu atau Kristen atau menjadi orang Islam. Tetapi orang yang aniaya yang bergelimang dosa dan pelanggaran, di dunia ini juga ia akan mendapatkan hukuman.

Sabda Nabi saw berikut kiranya dapat menjadikan kita hamba-hamba yang bertobat dan memperbaiki diri.

"Allah lebih senang kepada orang yang bertobat daripada orang yang haus menemukan air, orang yang mandul lalu punya anak, dan orang yang tersesat lalu menemukan jalan. Dan barangsiapa bertobat kepada Allah dengan tobat yang baik, maka Allah membuat lupa dua malaikat yang mengawasi amal tersebut (Rakid dan Atid), seluruh anggota badannya, dan tempat dalam tanah (kubur) terhadap kesalahan-kesalahan orang yang tobat dan dosa-dosanya." (HR Ibnu Abbas)

Semoga Allah menerima tobat kita. 

Ketika Sinar Islam Mulai Meredup

0
Ketika Sinar Islam Mulai Meredup
(Ketika Sinar Islam Mulai Meredup)
Ketika Sinar Islam Mulai Meredup - Konsep menang dalam Islam itu seperti menangnya sinar MATAHARI diatas cahaya LAMPU. Ketika malam tiba,  hampir semua orang menyalakan lampu dalam berbagai ukuran, ada yang redup, sedang,  ada juga yang terang benderang,  namun ketika pagi tiba, matahari terbit dengan sinarnya yang semakin terang,  maka orang-orang yang tadinya menyalakan lampu dengan sendirinya mereka mematikan lampu-lampu itu, karena mereka sadar bahwa sinar lampu nya sudah kalah dengan matahari, menyalakan lampu hanyalah pemborosan dan kebodohan.

Ketika Sinar Islam saat ini terus meredup, maka banyak orang menciptakan dan berjualan cahaya dalam bentuk ideologi, pemikiran, faham, madzhab, manhaj, agama dan kepercayaan, banyak orang tertipu dengan cahaya-cahaya baru itu, seolah bisa menerangi ternyata hanya sebuah pantulan cahaya saja, ketika pemantulnya pergi, lenyaplah cahaya itu.

Nah, untuk menyalakan kembali Sinar Islam yang terang benderang seperti sediakala, inilah tugas utama KEKHALIFAHAN kita.

Caranya ? Nyalakan Sinar Islam dalam diri kita dan keluarga kita hingga cahanya memancar ke tetangga dan masyarakat sekitar, lalu nyalakan Cahaya Islam dalam organisasi, perusahaan dan Jama'ah kita hingga cahanya memancar ke organisasi,  perusahaan dan Jama'ah lainnya, 

ketika setiap keluarga Muslim telah sadar dan berupaya menyalakan sinarnya dimanapun dia beraktifitas, maka percikan-percikan sinar itu pada saatnya akan menyatu menjadi MATAHARI dengan ijin Allah SWT, walau banyak kaum yang membenci dan berupaya memadamkan Sinar Islam yang sedang kita pancarkan. (Ash-Shaf ; 8-9)

Sederhana, kan ? gak perlu pake pedang apalagi pake bom segala,  bikin infrastruktur kehidupan tambah hancur, dan terlalu mahal untuk membangunnya kembali.

Setelah kepercayaan diberikan kepada kita lalu Alam pun ditundukkan untuk kita yang boleh kita kelola sekuat tenaga dan kemampuan kita.

Ada SATU TUGAS penting yang menjadi beban sepanjang hidup kita yaitu MEMENANGKAN ISLAM diatas Agama, system dan ideologi selain Islam. (At-Taubah : 33)

Wah, perang dong ? ya iyalah, tapi perang kan gak harus selalu pake senjata perusak dan membunuh , apalagi di zaman yang secanggih saat ini,  hanya orang-orang PRIMITIF dan manusia bar bar saja yang kalo perang masih pake 'senjata perusak' dan membunuh.

Konsep Islam dalam memenangkan pertarungan tidak sama seperti orang yang bertarung di ring tinju, yang terpukul KO atau Mati dialah yang kalah.

Karena kita yang Mati dalam proses memenangkan Islam itu, sebenarnya tidak mati tapi hidup dalam limpahan rezeki yang tiada berbatas. Aneh kan ? coba lihat ayat ini :

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyia­kan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 169-171).

Konsep Menang By : Ust.Aly Motivator Ideologis